Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kristen (Kitab). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kristen (Kitab). Tampilkan semua postingan

Kitab Suci Injil


Banyak pengikut Paulus yang "nggak ngeh", termasuk pendeta produk Sekolah Tinggi Teologi jaman now, bahwa untuk mengulang sukses Alkitab Klinkert terbitan 1870, maka pada tahun 2000 sekali lagi LAI menerbitkan sebuah buku tebal berjudul Kitab Suci Injil yang "sangat Islami", konon katanya hasil terjemahan Bible berbahasa Yunani terbitan tahun 1912 dengan tujuan mudah ditebak, agar umat Islam yang kebetulan membacanya akan terkecoh lalu mengira dan percaya bahwa kitab tsb adalah kitab yang disebut-sebut di dalam Al-Quran sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa Alayhi Salam.

Itu sebabnya kenapa di dalam kitab tsb nama Yesus Kristus tidak pernah ditulis, tetapi diganti dengan nama Isa Almasih (versi online masih dapat dilihat di sini).

Sedangkan bagaimana "islaminya" buku tsb, dapat sama-sama kita cermati dalam kutipan kata pengantarnya sbb:

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas terbitnya edisi kedua Kitab Suci Injil terjemahan tahun 1912 dalam bahasa Indonesia. Edisi pertama dari Kitab Suci terjemahan tahun 1912 ini, terbit di Asia Tenggara pada tahun itu juga, terdiri atas seluruh Kitab Taurat, Zabur, dan Injil, ditulis dalam bahasa Melayu serta dicetak dalam huruf Arab yang juga disebut huruf Jawi. Edisi ini beredar terutama di Sumatra, Kalimantan, semenanjung Malaysia, dan Singapura. Pada tahun 1929, Kitab Suci Zabur dan Injil dari terjemahan ini diterbitkan dalam huruf Latin dengan menggunakan ejaan yang lazim dipakai di Indonesia pada zaman itu. Di Indonesia, edisi itu dipakai terutama di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Di beberapa daerah tertentu, Kitab Injil terjemahan tahun 1912 ini telah dicetak ulang dan terus dipakai sampai tahun 1970-an. Bahkan Kitab Taurat, Zabur, dan Para Nabi tetap dipakai hingga sekitar tahun 1990-an.

Walaupun Kitab Suci Injil telah diterjemahkan ke dalam ribuan bahasa, naskah aslinya yang tertulis dalam bahasa Yunani tidak pernah berubah. Kitab Suci Injil terjemahan 1912 edisi kedua ini merupakan hasil pembaharuan dari edisi pertamanya, dan telah melewati proses pemeriksaan berulang kali oleh sebuah tim ahli bahasa Yunani dan bahasa Indonesia. Maksudnya ialah supaya setiap kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia tidak melenceng dari arti dan maksud yang terdapat dalam bahasa aslinya. Karena Kitab Suci adalah sempurna dalam bahasa aslinya, teks bahasa Yunani sengaja disertakan dalam Kitab Suci edisi kedua ini, supaya Kitab Injil ini dapat dibaca dan dipelajari pula dalam bahasa aslinya.

Secara umum, edisi kedua ini dari Kitab Suci Injil ini tidak jauh berbeda dari edisi pertamanya. Nama-nama, istilah-istilah, dan gaya bahasa yang ada pada edisi pertama sejauh mungkin dipertahankan dalam edisi kedua. Walaupun demikian, ada juga beberapa perubahan, antara lain:
  1. Edisi kali ini memakai Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD-1972) sebagai ganti ejaan yang lama.
  2. Tata bahasa modern yang baku di Indonesia pada saat ini dipakai menggantikan tata bahasa yang lama.
  3. Istilah-istilah yang sudah tidak lazim diganti dengan istilah-istilah yang umum dipakai sekarang ini, seperti: bini menjadi istri, tasik menjadi danau, Griek menjadi Yunani, jin yang najis menjadi roh jahat, dsb.
  4. Dalam naskah bahasa asli Kitab Injil (bahasa Yunani), sering muncul istilah kurios, yang mengandung beberapa arti, antara lain: tuan, pemimpin, pemilik, penguasa, junjungan, atau Tuhan. Dalam edisi yang pertama, pada umumnya kurios diterjemahkan menjadi Rabbi (dari kata dasar Rabb) jika yang dimaksudkan adalah Al Masih. Sedangkan dalam edisi kedua ini, untuk terjemahan kata kurios yang menunjuk kepada Al Masih, tim ahli Kitab Suci dan bahasa telah menemukan sebuah istilah yang lebih dikenal, lebih mudah dipahami, serta lebih lazim dipakai di Indonesia pada masa kini, yaitu Junjungan, Tuan, atau Junjungan Yang Ilahi, dan pemakaiannya tergantung pada konteks dan artinya di dalam kalimat.

Penjelasan tentang istilah-istilah lain bisa ditemukan pada kamus kecil yang ditempatkan pada bagian akhir dari Kitab Suci ini.

Akhir kata, semoga Kitab Suci ini dapat mendatangkan berkah bagi Bapak, Ibu, serta Saudara pembaca, dan semoga Sabda Allah yang abadi ini tinggal di dalam diri Bapak, Ibu, serta Saudara dengan berlimpah-limpah hingga akhir zaman. Amin.

Lembaga Alkitab Indonesia
[Terjemahan 1912, dalam huruf Arab:]


CATATAN: 
Jika tertarik untuk mempelajari isu ini lebih lanjut, silahkan berkunjungi ke sini. 

Baru dari kata pengantarnya saja, sebenarnya sudah banyak hal ganjil yang mengundang pertanyaan, apalagi jika menilik keseluruhan isi kitab yang "dianggap suci" ini. Namun untuk permulaan, GM cuma ingin menanggapi teks yang diberi tinta warna merah saja.  

Perhatikanlah bagaimana menyesatkannya penjelasan tentang alih bahasa Kurios yang diterjemahkan menjadi Rabbi di atas itu. LAI menyebutkan bahwa kata Rabbi yang dinisbatkan kepada Isa Almasih berasal dari akar kata Rabb yang dalam bahasa Arab dipahami sebagai personifikasi Tuhan. Jadi bukan dari bahasa Yunani yang tidak mengenal kata "Rabb" yang justru sedang mereka terjemahkan dalam kitab ini. 

Pada masa kenabiannya, Isa Almasih memang disebut "Rabbi" oleh para sahabat dan pengikutnya.  Sedangkan arti "Rabbi" dalam bahasa sehari-hari Isa Almasih sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rabb dalam bahasa Arab, apalagi dimaknai sebagai jelmaan Tuhan! 

Dalam tradisi bertutur bangsa Yahudi, Rabbi adalah kata yang lazim digunakan untuk menyebut orang-orang alim yang dihormati.      

Rabi atau Rabbi (Ibrani Klasik רִבִּ×™ ribbÄ«; Ashkenazi modern dan Israel רַבִּ×™ rabbÄ«) dalam Yudaisme, berarti "guru", atau dalam pengertian secara harafiah adalah "yang agung". Kata "Rabbi" berasal dari akar kata bahasa Ibrani RaV, yang dalam bahasa Ibrani alkitabiah berarti "besar" atau "terkemuka (dalam hal pengetahuan keagamaan)".

Dalam aliran-aliran Yudea kuno, kaum bijaksana disapa sebagai רִבִּ×™ (Ribbi atau Rebbi) — dalam abad-abad belakangan ini berobah ucapannya menjadi "Rabbi" (guruku). Juga kata Rabuni (Markus 10:51; Yohanes 20:16) sama artinya dengan Rabbi, yaitu "guruku". Dalam masyarakat Yahudi, sebutan penghormatan ini lambat laun dipergunakan sebagai gelar, dan akhiran pronomina "i" ("-ku") kehilangan maknanya karena seringnya kata ini digunakan. Di Eropa Timur, Rabi diucapkan sebagai "Ravin," (Раввин).

Dari dulu sampai sekarang peran Rabbi dalam masyarakat Yahudi mempunyai banyak sisi. Pada jaman dahulu, Rabbi merupakan gelar seseorang yang terpelajar, yaitu guru yang menguasai keseluruhan 613 mitzvot (hukum agama) Yahudi, atau orang yang ditunjuk sebagai pemimpin agama di komunitasnya. Saat ini para Rabbi masih bertanggungjawab untuk mengajarkan ajaran agama Yahudi secara umum, dan Halakha (aturan-aturan agama) secara khusus; dan umumnya berhak menentukan penerapan hukum Yahudi. 

Nah, itulah pengertian Rabbi yang sebenarnya, apalagi jika dikaitkan kepada nabi Isa Almasih, sang Guru!

Kata lain yang juga membuat kita merngerenyitkan dahi ketika membacanya adalah "sabda Allah." Kendati entah sejak kapan KBBI mendefinisikan kata sabda sebagai "perkataan atau ucapan Tuhan, Nabi, Raja dan sebagainya" , namun kita tidak pernah menemukan kata "sabda Allah" dalam literatur Islam manapun di muka bumi ini karena menurut akal dan hirarkhinya, kedudukan Allah tidak setara dengan hamba-Nya yang bergelar Nabi dan Raja. Dalam kitab Kristen sendiri Allah tidak disebut bersabda tapi berfirman!   


Jika memang kata sabda dimaknai sama artinya dengan firman, tentu sudah sejak lama kita mendengar dari mulut para pendeta Kristen bahwa Yesus Kristus adalah sabda yang hidup! Bukan seperti dalam doktrin kekristenan dan menjadi angan-angan mayoritas umat Kristen selama ini bahwa Yesus Kristus adalah firman yang hidup!     

Dari sini kita bisa melihat sendiri betapa menyesatkannya orang-orang yang memiliki akses penuh untuk mengotak-atik buku terjemahan yang dianggap sebagai kitab suci oleh umat Kristen, bukan?

Ya, begitulah!
Semoga bermanfaat!

[Gus Mendem]

Sejarah Kitab Kitab Suci Kristen

Secara teritorial, pada tahun 284 M. kaisar Diocletian menghasilkan keputusan strategis untk membagi kekaisaran Romawi dalam dua teritori dengan penguasanya sendiri-sendiri, untuk alasan keamanan dan kemudahan administrasi. Penyatuan kekaisaran dilakukan kembali oleh Konstantin setelah ia mengalahkan penguasa Romawi Timur, tetapi kemudian terbagi lagi pada tahun 392 M. saat Theodosius I membagi kembali teritori kekuasaan Kekaisaran kepada dua anaknya yang masih kecil, wilayah timur untuk anaknya Arcadius yang masih berumur 18 tahun, dan bagian barat kepada Honorius yang masih berumur 10 tahun. Tindakan ini menandakan awal kehancuran kekaisaran Romawi. Gereja Barat dikepung dan oleh bangsa barbar, sedangkan Gereja Timur akan menghadapi tekanan dari Kerajaan Persia dan Muslim.

Kembali pada masa kekuasaan Konstantin, Pada masa awal pertumbuhan kekristenan, paska digelarnya konsili nikea, polarisasi antara gereja wilayah Romawi barat dan timur mulai meruncing. Pada dasarnya perbedaan utama kedua gereja tersebut terletak pada kecenderungan mereka terhadap penerimaan baik paham Arian maupun Athanasius. Gereja barat yang dimotori kekaisaran dapat menerima sepenuhnya kredo Nikea yang dipengaruhi pemikiran Tertullian dan Athanasius. Sedangkan di pihak lain gereja Timur lebih dipengaruhi Arian dan pemikiran Origen bahwa anak (Yesus) lebih rendah dari Bapak. Pendukung doktrin Arian terutama adalah Kaisar Konstantin dan anak-anaknya. Nantinya, Gereja Timur akan berpusat di Konstantinopel, Byzantium, kota yang didirikan oleh Konstantin tahun 330 M. dan menjadi Ibu Kota Romawi guna menggantikan teritori barat yang semakin terancam bangsa barbar.

Konsili Nikea tidak berhasil meredam kekisruhan antar pengikut Kristen, hal ini sangat dirisaukan Konstantin. Konsensus tidak berhasil ditemukan dan Konstantin mendesak agar Athanasius mau berunding kembali, sayangnya pendirian Athanasius terlalu kuat untuk menerima tawaran tersebut. Hal ini membuat sang kaisar putus asa. Ia dan penerusnya menganggap Athanasius sebagai pembuat masalah. Pada tahun 330, sang Kaisar memanggil kembali Arius dan kawan-kawan yang telah diasingkan oleh keputusan Nikea. Ia ingin mengembalikan nama Baik Arius dan pendukungnya. Usaha Konstantin ini didukung oleh Eusebius dari Nicomedia dan Origen, pendukung setia faksi Arius, yang juga haus akan balas dendam terhadap pendukung doktrin Nikea, khususnya Athanasius.

Tindakan paling nekat mereka adalah menyerang Athanasius yang saat itu menjabat sebagai uskup Alexandria menggantikan Alexander. Ia dikeluarkan dari kantornya berdasarkan keputusan Konsili Tyre di tahun 335 M. Dan kemudian dibuang ke Gaul. Tetapi Athanasius adalah orang yang keras kepala dan selalu berusaha untuk pulang kembali ke Alexandria. Bahkan pengusiran Athanasius dari Alexandria sempat dilakukan oleh 6 kaisar yang berbeda. Kebebalan Athanaius sangat dikenal saat itu hIngga sempat muncul frase “Athanasius contra mundum” atau Athanasius melawan dunia. Di tahun yang sama, Arius dan kerabatnya diijinkan untuk mendapat komuni Gereja di konsili Yerusalem. Tetapi semua ini tetap tidak dapat meyakinkan para penatua di Alexandria untuk menerima Arius sepenuhnya. Konstantin selajutnya memanggil Arius ke Konstantinople pada 336 M., dan memerintahkan Alexander, uskup kota tersebut untuk mengijinkan Arius memasuki gereja kota tersebut. Tetapi sebelum hal itu tewujud, Arius keburu tewas akibat penyebab yang misterius, beberapa mencurigai kalau ia diracuni. Beberapa pihak mencurigai bahwa rival Arius berada di balik kematian ini. Konstantin menyusul kematian Arius tidak lama setelahnya.

Walaupun doktrin Arian mungkin akan dirasakan asing oleh umat Kristen awal-generasi Yakobus. Ia mungkin masih memiliki beberapa kesamaan dalam memandang posisi Yesus yang lebih rendah dari Bapa. Bertentangan dengan pandangan kebanyakan, yang menganggap Gereja Barat dengan pusatnya Roma sebagai asal mula penyebaran Kristen, Gereja Timur ternyata memiliki konsep-konsep kekristenan yang lebih tua. Perlu diingat bahwa Penyebaran Kristen awal dimulai di Jerusallem oleh dewan rasul, bukan di Roma. Konsep Kristen Gereja Barat lebih terpengaruh oleh pemikiran Paulus dan pagan Romawi.

Kematian Konstantin mengantar salah satu anaknya, Konstantius, kaisar romawi Timur beserta kalangan terdekatnya untuk tetap mendukung perkembangan doktrin Arius. Saudaranya, Constans yang menguasai gereja barat mendapat dukungan dari faksi konsili Nikea. Kemudian terjadilah berbagai intrik dan pesaingan untuk memperebutkan kekuasaan. Berbagai konsili berbau politik diadakan oleh kedua belah pihak untuk menyerang satu sama lain. Constans meninggal di tahun 350 M., dan dua tahun kemudian sebagianbesar daerah kekuasaanya dikuasai oelh saudaranya, Konstantinus. Peristiwa ini merupakan pukulan telah bagi faksi Nikea. Sang Kaisar merupakan pendukung Arianisme sejati, dan memperlakukan pendukung faksi Nikea dengan penuh kekejaman untuk memasukan mereka ke dalam paham Arian. Sejarah Kristen dalam era Konstantinus dikenal sebagai periode yang kelam. Kaum Arian akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas segala perlakuan yang merek dapat paska doktrin Nikea diberlakukan.

Kematian Konstantinus di tahun 362 M. Menandakan berakhirnya masa keemasan Arianisme. Penggantinya, Julianus tidak memiliki pendirian di antara baik paham Arian maupun Ortodoksi Nikean. Julianus adalah seorang Pagan sejati. Selanjutnya Jovian mendukung sentimen ortodox dan menentang Arianisme, akibatnya seluruh bagian Barat mengikuri pandangannya dan kembali mempercayai doktrin Nikea. Tetapi keandaanya mulai berubah saat dua bersaudara Valentinian dan Valens, memasuki kekuasaan tahun 364 M.. Valentinian mendukung keputusan Nikea dan menghabisi seluruh gereja Arian di barat. Bersebrangan dengannya, Valens mengambil posisi Arianisme dan menyerang penyebaran ortodksi di bagian Timur.

Sayangnya sang Kaisar terburu menghadapi perang dengan bangsa Goth di tahun 378 M., Gratian, yang menggantikan Valentinian di Barat, di tahun 376, menjadi penguasa seluruh kekaisaran di tahun 378 - mengembalikan posisi ortodoks ke atas angin. Selanjutnya Theodosius Agung, dengan melarang penyebaran Arianisme di gereja-gereja dan mengeluarkan peraturan yang membatasi gerak Arianisme, menghasilkan kejayaan Doktrin Nikea di mana-mana. Tidak ada yang berani mengexpresikan pandangan Arianisme kecuali Bangsa Barbar seperti Goth, Vandal, dan Burgundy. Tampaknya sejarah persaingan antar faksi yang penuh kekerasan ini belum bisa berakhir, dengan tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan atas kesalahan terbesar. Tahun 382 Konsili Konstantinopel digelar oleh pendukung Athanasius dan berhasil menguatkan posisi ortodoks. Sayangnya kemenangan ini tidak sempat disaksikan Athanasius.

Kaum Arian akan memiliki posisi yang lebih kuat seandainya mereka tidak saling bertikai di dalam faksi mereka sendiri. Sebagaimana diketahui, setelah putusan Nikea diberlakukan, kaum Arian terbagi atas berbagai sekte yang masing-masing darinya mengklaim kebenaran. Beberapa bahkan sudah melenceng jauh dari pemikiran Arius yang sebenarnya. Kaum Arian yang berusaha menafsirkan sendiri pemikiran Arius cenderung memasuki kesalahan yang sama. Terdapat tiga faksi utama dalam tubuh Arianisme, yang pertama adalah Anomeans, yang menekankan perbedaan antara Bapa dan Anak; Homeans, yang menyiratkan kesamaan antara anak dan Bapa “berdasarkan kesesuaian kitab suci”, dan Semi-Arians, yang menekankan istilah homoiousion, yang mengexpresikan baik kesamaan dan perbedan antara Bapa dan Anak.

Di abad kelima, kaum Arian yang semakin tertekan oleh perlakukan Kekaisaran, mengungsi kepada bangsa-bangsa Barbar yang lambat laun mulai menguasai Romawi barat. Mereka menemukan tempat di antara kaum Goth, Heruli, Suevi, Vandals, dan Burgundy. Setelah merasa aman, mereka kemudian memperlakukan kaum ortodoks dengan kekejaman yang hampir sama dengan yang pernah mereka dapatkan. Kaum Vandal, yang menancapkan kekuasaan di Afrika, turut memberlakukan kebijakan yang sama terhadap pendukung Nikea. Awalnya Ginseric, raja mereka, dan kemudian Huneric, anaknya, menghancurkan gereja-gereja dan membuang uskup-uskupnya ke pengasingan, dengan dasar perlakukan tersebut serupa dengan yang pernah dilakukan Kaisar terhadap kaum Donatik, Arian, dan lainnya yang dianggap menyimpang dari ajaran ortodoks.

Di awal abad keenam, kaum Arian berjaya di sebagian Asia, Eropa, dan Afrika. Banyak dari uskup Asia yang mendukung Arianisme. Kaum Vandal di Afrika, Goth di Italia, kaum Gaul, babgsa Suevi, Burgundy, dan Spaniard dengan terbuka menyokong kepercayaan Arianisme mereka. Kaum Yunani yang sempat mendukung doktrin Nikea turut memperoleh kekerasan dimanapun mereka berada. Dalam periode yang disebut sebagai abad kegelapan di Eropa ini, kekerasan antara Arian dan Ortodoks terjadi seakan tidak pernah berhenti dan selalu berulang. Hingga kemudian Justinian berkuasa dan merestorasi keadaan. Ia berhasil mengusir kaum Vandal dari Afrika dan Goth dari Italia. Akhirnya beberapa raja penganut Arian, seperti Sigismund, raja Burgundy, Theodimir-Raja Suevi di Lusitania, dan Receared, raja Spanyol, tanpa penumpahan darah mengakui pelepasan meeka dari doktrin Arian. Entah ada alasan apa di balik peristiwa tersebut, tetapi efeknya sejak itu, Kaum Arian mulai sedikit demi sedikit melemah dan tidak pernah memperoleh kekuatan yang sama lagi.

Dalam hal penggunaan kitab Suci, Saat gereja barat tengah menuju persetujuan dalam penentuan canon Perjanjian Baru, Gereja timur masih belum sepenuhnya sepakat dalam hal tersebut. Penyebabnya antara lain, Gereja timur mencakup wilayah yang lebih heterogen, mulai dari Syria, Turki (Byzantium) hingga Mesir. Sebelumnya gereja di wilayah-wilayah tersebut sudah memiliki pilihan canon kitab suci masing-masing. Gereja Syria contohnya, walaupun sempat menggunakan canon Tatian selama beberapa waktu, pada abad keempat seluruh naskah Diatessaron dimusnahkan oleh perintah Uskup Theodoretus dari Cyrrhus dan Rabbula dari Edessa. Mereka menggantikannya dengan empat Injil yang terpisah. Pada abad kelima, gereja Syria menggunakan Pesshita yang berisi seluruh kitab Perjanjian Baru kecuali surat II dan III Johannes, II Petrus, Yudas, dan kitab Wahyu. Beberapa aliran gereja timur masih menggunakan canon tersebut hingga saat ini. Tetapi secara keseluruhan, konsep kristianitas versi Paulus yang menyebar pesat di barat mengelami penerimaan yang lebih lambat di kawasan ini.

Selanjutnya sebagai pengingat, ada pula gereja Afrika (Koptik) yang berpusat di Alexandria. Dalam hal penggunaan kitab suci, gereja ini sangat dipengaruhi pemikiran Clement dari Alexandria. Contohnya gereja ini mengakui dua surat Clement sebagai bagian dari kitab suci. Gereja aliran lain yang berpusat di Ethiopia bahkan menggunakan kitab-kitab tak dikenal seperti Sinodos (kumpulan doa yang dianggap sebagai karya Clement dari Roma), Octateuch (dianggap ditulis Petrus kepada Clement dari Roma), Kitab Perjanjian (berisikan instruksi Yesus sebelum peristiwa kenaikan), dan Didascalia (lebih seperti Didache yang berisikan peraturan-peraturan gereja). Naskah tertua yang pernah ditemukan saat ini merupakan naskah yang berasal dari keluarga Alexandria, tidak lain adalah codex Sinaiticus yang turut memuat kitab Hermas dan surat Barnabas. Membuktikan bahwa pada abad keempat masih ada gereja yang tidak menggunakan canon resmi.

Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa gereja barat lebih sepakat dalam menentukan canon, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan politik dan sosial pasca-Nikea. Contohnya saat Athanasius melarikan diri dari tekanan gereja timur (yang masih menganut Arianisme), ia malah mendapatkan tanggapan yang baik di gereja barat. Sinode Carthage merupakan penentu akhir kontroversi canonisasi, dan setelah itu hampir-hampir tidak ada revisi terhadap Perjanjian Baru. Gereja Katolik tidak segera meresmikan susunan Bible hingga tanggal 8 April 1546, di mana konsili Trent terpaksa diadakan akibat tekanan politik. Gereja Katolik akhirnya mengakui Bible yang berisi 73 kitab sebagai bacaan utama mereka. Keputusan ini mengakibatkan perbedaan dengan aliran Protestan yang hanya menggunakan Bible yang berisi 66 kitab.

Pihak Protestan menyebut 7 kitab tambahan yang digunakan Katolik sebagai apokrip, sedangkan Martin Luther walaupun tidak secara terbuka menolak keotentikan beberapa surat dalam Perjanjian Baru, kadang ia menempatkan beberapa surat dalam derajat yang rendah dibandingkan dengan surat lainnya. Seperti Marcion, ia menempatkan surat–surat Paulus dalam derajat utama dan harus dianggap sebagai sumber keterangan utama mengenai ajaran Kristen. Surat lainnya seperti Yudas, Yakobus, dan Petrus (Catholic Epistles) ia tempatkan pada derajat yang lebih rendah karena menyiratkan pertentangan terhadap ajaran Paulus.

Hingga kini dapat kita simpulkan bahwa kanonisasi Perjanjian Baru tidak pernah didasarkan atas pertimbangan literal atau historis, melainkan lebih atas dasar konsensus di antara gereja-gereja masa lampau. Akibatnya seperti yang bisa ditemukan saat ini, berupa banyaknya kontradiksi ditemukan di antara kita-kitab Perjanjian Baru. Martin Luther yang menyadari adanya pertentangan ajaran Paulus dalam beberapa surat akhirnya harus menempatkan beberapa surat dalam derajat yang berbeda. Belum lagi dengan ditemukannya berbagai keraguan atas keotentikan kitab-kitab tertentu di abad pasca-pencerahan yang menambah keraguan terhadap kredibilitas para Bapak Gereja awal dalam memproses canonisasi Perjanjian Baru.

Beberapa naskah kuno yang selama ini diungkap bahkan seakan membuka mata kita bahwa selama ini terdapat berbagai bacaan lain di luar Perjanjian Baru yang dianggap sebagai tulisan suci oleh gereja-gereja di abad awal. Masalah hilangnya beberapa bacaan tersebut dari sejarah, kita dapat menyalahkannya pada tindakan-tindakan gereja pada masa sesudahnya yang sangat protektif.

[Sumber: Sejarah Kekristenan Awal]

Mengenal Naskah-Naskah Alkitab Menurut Pemahaman Kristen

TEKS MASORET
Teks Alkitab yang kita miliki kerap kali adalah Tulisan-tulisan tangan  (- Tulisan tangan salinan Alkitab), terjemahan-terjemahan yang merupakan  sebuah hasil proses sastera selama ratusan tahun. Teks asli Alkitab sudah hilang. Teks Alkitab yang asli pada umumnya diwariskan oleh para pengarang kepada kita tanpa perubahan yang hakiki.

TEKS ALKITAB DARI PERJANJIAN LAMA
Saksi yang paling penting mengenai Teks Alkitab Ibrani adalah teks Masorit. Teks itu merupakan sebuah hasil karya para Masorit, yaitu para pengkritik naskah Yahudi (yang bekerja antara tahun 750-1000 sesudah masehi.). Mereka adalah orang-orang yang menyanggupkan diri untuk memikul tugas untuk menetapkan naskah Alkitab menurut orthografinya ( penentuan konsonan-konsonan dan huruf hidup yang ditulis dalam KITAB SUCI), menurut ungkapannya dan bagaimana perkembangannya sampai pada ketentuan yang terakhir. Penelitian yang ketat itu mereka lakukan dengan maksud untuk melindungi KITAB SUCI, agar tidak ada perubahan yang tersisip di dalamnya.

Sekarang sudah dapat dipastikan, bahwa teks Alkitab Ibrani mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis konsonan-konsonan sejak tahun 100 sesudah masehi. Teks Alkitab pada saat itu pada garis besarnya dapat dikatakan identik dengan teks Masorit. Tetapi juga kelihatan jelas, bahwa di banyak tempat digunakan sebuah teks Ibrani oleh para - Septuaginta, yang menyimpang cukup jauh dari Naskah Masorit, bukan hanya dalam soal-soal kecil, melainkan juga dalam pengaturan dan tambahan-tambahannya. Cetakan ketiga dari Biblica Hebraica, yang diterbitkan Kittel (1937) dan teks yang sedang diterbitkan, Biblica Hebraica Stuttgartensia adalah edisi teks Masorit yang paling baik.

TEKS ALKITAB DARI PERJANJIAN BARU
Jumlah tulisan tangan yang banyak sekali mengenai Alkitab, diatur menurut kelompok-kelompok tertentu. Tiap kelompok mempunyai coraknya sendiri. Orang tahu akan adanya kelompok Alexandria (B), kelompok Eropa (D), kelompok Antiokhia (A, atau disebut juga "koine"). Sejak abad 19 telah diterima secara merata, bahwa kelompok B itu paling dekat dengan teks aslinya. Tetapi kelompok A lebih dipakai dalam tradisi tulisan di waktu kemudian. Kelompok A menjadi bentuk percontohan pada Teks Alkitab yang disahkan kembali di waktu berikut, bahkan menjadi dasar untuk penerbitan-penerbitan yang pertama.

TEKS  SEPTUAGINTA (LXX)
Terjemahan tertua dan terpenting dari PERJANJIAN LAMA ke dalam bahasa Yunani. Nama Septuaginta berasal dari legenda yang diwariskan dalam  surat Aristeas. Di dalam legenda itu disebutkan bahwa 72 orang Yahudi menyelesaikan terjemahannya selama 72 hari.

ASAL DAN SEJARAH
Septuaginta dibuat di  Aleksandria untuk memenuhi kebutuhan  orang  Yahudi diaspora (kelompok-kelompok kecil yang disingkirkan) yang berbicara bahasa Yunani. Semula diterjemahkanlah - Pentateukh (5 kitab Musa, pertengahan abad 3 sebelum masehi.), kemudian secara lambat laun diterjemahkan pula Kitab-kitab PERJANJIAN LAMA lainnya (sampai menjelang tahun 100 sebelum masehi.). Terjemahan Septuaginta segera digunakan menjadi Alkitab resmi dalam Yudaisme helenis di dalam sinagoga-sinagoga.

Para penulis PERJANJIAN BARU lebih suka mengutip PERJANJIAN LAMA dari naskah terjemahan itu. Setelah hancurnya Yerusalem, kewibawaan Septuaginta diserang oleh orang-orang Yahudi sendiri. Padahal sampai saat itu Septuaginta tidak pernah mengalami serangan demikian. Di dalam perdebatannya dengan orang-orang Kristen, orang Yahudi meragukan kesetiaan penterjemahan naskah Ibrani oleh kelompok Septuaginta (misalnya: Kitab Yesaya 7:14; dan Kitab Mazmur 95:10).  Kecuali itu isi daripada Septuaginta tidak cocok dengan  Kanon (kumpulan kitab-kitab) seperti yang di tetapkan oleh Yudaisme (90/95 sesudah masehi). Akhirnya naskah Septuaginta tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolah Rabi Akiba. Dari situlah timbul terjemahan baru bagi orang-orang Yahudi helenis dalam abad kedua (Akwila, Theodotion, Syamkhus;  Terjemahan-terjemahan Alkitab I.1. b-d).

Mengenai sejarah Septuaginta di dalam gereja Kristen sebelum Origenes sedikitlah yang diketahui.  Sekitar tahun 200 naskah Septuaginta sudah begitu rusak, sehingga Origenes berusaha meniadakan perbedaan yang telah terjadi dengan membuat Heksapla ( naskah Ibrani dan terjemahan-terjemahan Yunani dalam 6 kolom yang sejajar) dan memulihkan kembali naskah-naskah aslinya.  Heksapla dan usaha di waktu berikut untuk memperbaiki naskah menimbulkan adanya resensi-resensi dan bentuk-bentuk naskah yang lain lagi.

NILAI TERJEMAHAN
Septuaginta itu tidak membentuk sebuah kesatuan, sehingga nilai  terjemahan tiap kesatuan itu berbeda jauh; Misalnya: Pentateukh (5 kitab Musa)  diterjemahkan dengan baik sekali. Kitab Yesaya dan para Nabi Kecil diterjemahkan secara jelek sekali. Kitab Dan lebih baik dikatakan sebuah saduran bebas daripada sebuah terjemahan.  Tetapi terjemahan Septuaginta masih tetap tidak dirubah-rubah sejak adanya usaha mempersatukan  naskah-naskah Alkitab pada abad pertama/kedua.  Dari segi pandangan lain Septuaginta adalah hasil usaha Kristen untuk mempersatukan naskah karena adanya maksud liturgis.  Penemuan Kitab-kitab Suci di  Kumran menyatakan, bahwa pada abad terakhir sebelum masehi. ada sebuah bentuk naskah Ibrani yang beredar dan dekat sekali bentuknya dengan naskah Septuaginta.  Setiap perbedaan naskah harus diperiksa sendiri-sendiri; Misalnya: di dalam memberi huruf vokal pada nama-nama pribadi, kelihatan, bahwa Septuaginta lebih baik daripada naskah Masorit yang kita miliki (yang lebih muda).

TULISAN TANGAN DARI KUMRAN
Di dalam musim semi 1947 ada gembala-gembala yang menemukan "gulungan" yang pertama. Tempatnya di padang gurun Yehuda, 3 km di sebelah utara en Feskha dan dekat dengan puing-puing sebuah bangunan besar di sebelah utara pantai Laut Mati. Orang-orang Arab menamakan puing-puing itu Khirbet Kumran. Di kemudian waktu naskah-naskah lain ditemukan di wadi Murrabba'at sejauh 18 km barat-daya dari Khirbat Kumran dan ada tambahan penemuan lagi di Khirbet Mird. Setelah gurun itu diselidiki secara sistematis ditemukanlah naskah-naskah (kebanyakan berbentuk fragmen-fragmen) yang berada di dalam 11 gua.

Publikasi dari keseluruhan bahan itu masih akan makan waktu bertahun-tahun. Penyelidikan arkeologis (1952-1956) telah memastikan, bahwa di Khirbet Kumran ditemukan pusat satu-satunya "perserikatan Kumran" (oleh kebanyakan para penyelidik, perserikatan itu disamakan dengan gerakan  Esseni). Sebuah ekspedisi Israel menemukan naskah-naskah Alkitab maupun profan di dalam (wadi) Nahal Heber dan di  Masada, sebuah benteng di lereng timur pegunungan Yehuda di dekat Laut Mati, tidak jauh dari En-gedi. Terletak pada suatu dataran tinggi padas yang curam. Diperluas secara megah oleh Herodes dan menjadi tempat pertahanan terakhir dalam perang Yahudi melawan Roma (66-73 sesudah Masehi). Di situ antara lain ditemukan surat-surat dari Bar Kokhba pada saat perang kemerdekaan Yahudi yang kedua (132-135;  Papiri, yaitu tanaman pandan-air yang tersebar luas di zaman Mesir kuno (Kitab Keluaran 2:3) dan kini sudah jarang lagi tumbuh. Tanaman itu dipakai untuk anyaman (Kitab Keluaran 2:3), untuk pembuatan perahu (Kitab Yesaya 18:2) dan terutama sebagai  bahan untuk menulis (kata "paper" = kertas). Dari batang yang ditaruh dalam bentuk tumpang-silang, orang mengepres dan membuatnya halus, sehingga timbullah lembaran-lembaran yang dilem menjadi gulungan.).

TULISAN ALKITAB.
Tulisan tangan yang paling penting adalah gulungan Yesaya yang hampir lengkap. Gulungan itu ditemukan pada tahun 1947 dan diumumkan pada tahun 1950. Di samping itu masih ada sebuah naskah Alkitab dengan komentar atas Habakuk 1-2. Gua tempat menyimpan fragmen-fragmen semua Kitab PERJANJIAN LAMA-Ibrani dengan pengecualian Ester. Dalam gua 11 ditemukan sejumlah sisa besar sebuah gulungan Mazm., yang saat ini merupakan tulisan Alkitab yang nomor dua besarnya. Gua-gua lainnya memuat fragmen-fragmen Alkitab yang lebih kecil. Hukum (terutama kitab Ulangan.), Yesaya. dan Mazmur., termasuk penemuan yang paling besar. Di dalam "perserikatan Kumran" kitab-kitab itu barangkali merupakan bagian kitab-kitab yang paling disayangi.

Titik tanggal yang pasti merupakan masalah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan Alkitab. Kini rasanya seperti sudah pasti, bahwa kebanyakan buku-buku Alkitab berasal dari dua abad terakhir sebelum masehi., atau dari abad pertama sesudah masehi. Penyelidikan tentang keadaan penemuan itu memberi petunjuk bahwa buku-buku itu ditaruhkan dalam gua-gua tadi pada tahun atau bahkan sebelum tahun 68 sesudah masehi. Barangkali beberapa di antaranya berasal dari abad 1 atau 2 sebelum masehi. Beberapa fragmen lainnya mungkin tergolong lebih tua (abad 3 atau 4 sebelum masehi).

Tulisan-tulisan tangan dari Kumran memberikan sebuah Naskah Alkitab yang ditulis seribu tahun lebih tua daripada kodeks-kodeks Ibrani yang kita miliki sebelum penemuan itu. Meskipun demikian naskahnya itu di dalam keseluruhannya tidak lebih baik daripada naskah Masorit. Dengan demikian terbuktilah bahwa naskah Masorit pada hakekatnya termasuk jauh lebih tua daripada yang diperkirakan. Ejaan baik (ortografi) yang ditemukan,- penting bagi pelajaran sejarah bahasa Ibrani -, nampak berbeda dalam naskah-naskahnya. Selanjutnya nampak dari beberapa fragmen yang ditemukan, bahwa LXX (SEPTUAGINTA) termasuk pada teks-teks yang katanya diterjemahkan secara bebas atau atas keinginan pribadi perorangan tertentu, barangkali juga dikembalikan pada asal Ibrani-nya.

Dari penemuan-penemuan itu tersingkap bahwa naskah PERJANJIAN LAMA yang berbahasa Ibrani itu belum ditetapkan secara pasti pada tahun 68 sesudah masehi. Pada tahun 132-135 orang baru mempunyai sebuah naskah kesatuan, yang dalam garis besarnya nampak seperti naskah Masorit. Tetapi naskah ini bukan satu-satunya naskah yang beredar.

TULISAN-TULISAN BUKAN ALKITAB
Tulisan-tulisan itu boleh jadi berasal dari zaman yang sama dengan zaman naskah-naskah Alkitab. Tetapi orang harus membedakan tuanya tulisan-tulisan bukan Alkitab itu dengan tuanya teks aseli dari tulisan itu. Sebab tulisan yang ditemukan sudah merupakan edisi kesekian kalinya daripada teks aselinya.

Jemaat Kumran tentunya memiliki sebuah perpustakaan komentar yang cukup luas mengenai KITAB SUCI. Eksegese di situ caranya aneh dan menyimpang dari tipe midrasy seperti yang dikenal orang sampai sekarang. Mereka suka menghubungkan kata-kata Kitab dengan dirinya dan dengan zamannya. Anggapan mereka, bahwa zaman merekalah yang terakhir. Adapun komentar yang paling luas isinya adalah komentar Habakuk atas Habakuk 1-2. Isinya menarik sekali oleh permainan yang dipakai untuk menyinggung keadaan zaman penyusun. Mengenai komentar-komentar lainnya hanya dikenal fragmen-fragmen melulu (komentar Hosea., Mikha., Mazmur., Yesaya.).

PERATURAN-PERATURAN
Yang paling penting adalah peraturan sekte atau pengaturan jemaat. Oleh penerbitnya yang pertama (1951) disebut Manual of Discipline. Naskah itu (11 kolom) hanya sedikit yang rusak. Peraturan itu mengajar para anggota jemaat, bagaimana mereka akan hidup, sesuai dengan penafsiran pimpinan, memenuhi hukum (taurat). Peraturan jemaat ini boleh jadi diperuntukkan para pengikutnya yang nampaknya hanya pria melulu. Masih ditambah lagi dengan sebuah dokumen yang juga membicarakan soal para istri dan anak-anak. Barangkali peraturan-peraturan itu diperuntukkan bagi zaman keselamatan yang akan datang, sebab di situ antara lain dibicarakan tentang kemungkinan, bahwa Mesias itu akan hadir di dalam perjamuan.

Tulisan tangan Damsyik menurut isi dan coraknya termasuk ke dalam sastra Kumran. Hal itu dapat dibuktikan lagi dari kenyataan, bahwa fragmen-fragmen dari berbagai eksemplarnya ditemukan dalam gua-gua Kumran. Sudah hampir dapat dipastikan, bahwa tulisan itu berasal dari periode yang lain daripada aturan jemaat itu. Ada tulisan soal peraturan berperang. Tulisan itu berusaha melukiskan sebuah perang yang dilakukan oleh para putera cahaya, artinya: oleh para anggota perserikatan, yang berperang pada akhir zaman melawan seluruh bagian dunia yang lainnya. Para imam memegang peran besar di situ.

 Di luar Mazmur Alkitab, jemaat Kumran masih mendoakan Mazmur-nya sendiri. Sebetulnya mereka doakan nyanyian pujian, yang di dalam tinjauan sastranya merupakan sebuah mosaik kata-kata Mazm Alkitab, tetapi menunjukkan sebuah kesatuan konsepsi theologi tersendiri. Oleh karenanya perlu dipandang sebagai karya satu orang pribadi. Sebagai ungkapan cara berpikir religius di Kumran, maka Mazm-Mazm itu mempunyai nilai yang besar bagi kita. (4) Sisa naskah lainnya. Di antara naskah-naskah ini, kesaksian-kesaksian sebuah sastra apokrif-apokaliptik sangat meluas isinya dan mengambil tempat yang besar di dalamnya. Padanya termasuk tulisan-tulisan yang sudah terkenal (Yub., Hen., Test XII) seperti yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya: sebuah gambaran tentang Yerusalem baru, sebuah doa dari Nabonid dan tiga buah fragmen lain dari siklus Daniel. Menyolok pula banyaknya naskah liturgi, yang dalam cara tertentu bisa dijadikan pendahulu surat Ibrani dan Why.: Liturgi dan kenisah di surga nampak sebagai contoh dari liturgi dan kenisah di dunia.

ARTI DAN NILAI PENEMUAN
Penemuan Kumran  telah memberikan cahaya terang baru pada Yudaisme  Palestina dalam zaman pergantian PERJANJIAN LAMA menuju PERJANJIAN BARU Kini kita telah tahu, bahwa Yudaisme zaman Yesus mempunyai lebih banyak segi-segi pandangan lainnya daripada anggapan orang sebelumnya. Naskah-naskah Kumran memberikan kelonggaran atas pandangan-pandangan baru tentang dunia tempat agama kristen timbul. Pada banyak tempat di PERJANJIAN BARU yang dulunya diperkirakan mempunyai pengaruh helenis, kini lebih mudah dinyatakan sebagai pengaruh dari kalangan Yahudi sendiri.

THEOLOGI
Meskipun pendiri perserikatan Kumran (ia disebut "guru keadilan") maupun sebab-musabab konkrit mengenai pendirian jemaat itu tidak dikenal (rupanya pertanyaan atas "penanggalan yang tepat" menjadi penentu yang penting), namun di dalam Kitab-kitab yang ditemukan harus diakui adanya sebuah konsepsi theologi yang mengesankan: Jemaat Kumran  yang yakin, bahwa Allah membuka kembali dan memberikan kepada jemaat itu persekutuan denganNya dan dengan para malaekatNya. Mereka secara khusus dijiwai semangat untuk menjadi mirip dengan Tuhan dalam segala-galanya. Mereka bukan hanya merasa berkewajiban memenuhi nasihat yang diberikan oleh Tuhan dengan tepat, melainkan harus juga memisahkan diri dari semua orang dosa dan dari a pa saja yang mengandung dosa. Sebab Tuhan sendiri memberi rokh kegelapan, sehingga semua para anggota Kumran wajib membenci semua hal yang mengandung dosa dan menolaknya.

Bahkan setiap anggota yang melanggar sebuah perintah dari hukum, artinya: memberikan tempat pada rokh kejahatan, harus dipisahkan dari perserikatan untuk sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Memiliki rokh itu sekaligus menentukan tempat setiap orang sesuai peraturan perserikatan. Di dalam peraturan itu harus dicerminkan "peraturan surgawi": Tak seorangpun boleh ada di atas tempat nasibnya (yang ditentukan Tuhan).

Petunjuk-petunjuk yang disingkapkan oleh Rokh Allah tidak cukup hanya dijadikan norma belaka. Dengan bantuan sebuah tanggalan yang hanya mengikuti perhitungan matahari, yang dianggap sebagai "tanggalan surgawi", orang harus memberi susunan peraturan pada hidupnya sendiri. Ia harus membantu perserikatan, menjawab kurnia Tuhan sesuai waktunya. Justru karena Kumran merupakan perserikatan yang sadar, bahwa terpanggil oleh Tuhan sebagai hadiah melulu yang penuh rakhmat, maka para saudara sewarga berusaha untuk tidak menyombongkan diri dalam menghayati perserikatan itu, melainkan memasuki jalan yang dibuka Tuhan baginya di dalam hukumNya.


[Sumber: Sanggar Alkitab]

Sekilas Tentang Kitab Septuaginta


SEPTUAGINTA adalah terjemahan kitab-kitab dalam Alkitab Ibrani atau Tanakh yang merupakan bagian Perjanjian Lama di Alkitab Kristen dari bahasa Ibrani (ditulis dalam huruf Ibrani Kuno) ke dalam bahasa Yunani pada abad ke-3 SM. Terjemahan ini disebut "septuaginta" yang dalam bahasa Yunani artinya adalah 70 dan sering ditulis sebagai "LXX" karena konon disusun 70 orang Yahudi yang ditugaskan oleh Ptolemaios II Philadelphos (285 - 247 SM), raja Mesir untuk dimasukkan ke Perpustakaan Alexandria (Iskandariyah).

Pada kenyataannya Septuaginta dikerjakan oleh 72 orang pakar yang mengenal baik tentang hukum-hukum Yahudi dan mampu menterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Yunani. Ada juga yang mengatakan bahwa ke 72 orang tersebut berasal dari 6 orang dari tiap suku Israel yang berjumlah 12 (6 x 12 = 72), tetapi pendapat ini masih perlu dipertanyakan (baca: Important Early Translations of the Bible)

Pada abad 19 dan abad 20 tersedia banyak sekali translasi Alkitab ke dalam berbagai bahasa. Namun sebelumnya, Alktab yang tersedia hanya terdapat dalam beberapa penerjemahan saja. Penerjemahan Alkitab mula-mula terjadi ke dalam bahasa Yunani yaitu Septuaginta tercatat dari abad ke 3 hingga ke 2 sebelum Kristus (abad ke-3 sampai abad ke-2 SM). Bukan hanya sebagai terjemahan yang tertua tetapi juga bermanfaat sebagi penghubung antara kitab Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru yang menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa penulisannya.

Alasan sebenarnya untuk melaksanakan penerjemahan ini adalah untuk memenuhi keperluan pendidikan dan liturgis dari komunitas Yahudi di Aleksandria yang jumlahnya cukup besar. Kebanyakan dari mereka telah lupa bahasa Ibrani atau telah tumbuh dan berbicara sehari-hari dengan bahasa Yunani Umum. Tetapi mereka adalah orang Yahudi dan ingin mengerti Kitab-kitab suci Tua, dimana tempat bergantungnya Iman dan Hidup mereka. Kepentingan Septuaginta sangat jelas. Disamping sebagai terjemahan pertama yang pernah di buat dari Kitab berbahasa Ibrani, juga merupakan media untuk membawa pemikiran keagamaan orang-orang Ibrani kepada dunia.

Septuaginta juga merupakan Kitab yang digunakan pada masa Jemaat Kristen mula-mula, dan para penulis Perjanjian Baru sering mengutip dari Septuaginta. Pengaruh lanjutan dari Septuaginta juga membuat Origen menggabungkan Septuaginta ke dalam karyanya bernama Hexapla, yaitu edisi kesarjanaan yang cukup rumit dari Perjanjian Lama. Berabad-abad Septuaginta memiliki pengaruh yang luas, seperti menjadi dasar penerjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Latin, Koptik, Gothic, Armenian, Georgia, Etiopia, Aram Kristen Palestina, Syria, Arab, dan Slavonic. Dan yang paling terpenting saat ini digunakan Otoritas dalam teks alkitabiah dari Perjanjian Lama bagi Gereja Ortodok Yunani.

[Sumber: Wikipedia]